Related Stories

Ranto Gunawan

Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah Bersama Tahitian Noni (Morinda)

MORINDASemua orang ingin bertumbuh, terlebih lagi berbuah.  Tetapi  sebagian orang ingin segera bertumbuh, bahkan berbuah.  Dilihat dari tujuannya, hal ini adalah benar meskipun belum tentu benar.  Proses pertumbuhan dan berbuah yang cepat cenderung dinikmati sesaat, dan tidak berbuah secara berkesinambungan.   Hal ini disebabkan karena pohon tersebut tidak berakar atau akarnya tidak terlalu dalam. 

Secara umum, ukuran bertumbuh  adalah pertumbuhan secara materi.  Misalnya bertumbuh dari tidak memiliki rumah menjadi punya rumah sendiri atau bertambah propertinya dari satu menjadi dua dan seterusnya; dari tidak memiliki kendaraan berubah dengan memiliki kendaraan; sebelumnya cukup untuk diri sendiri, kini mudah untuk berbagi pada orang lain.

Konsep pertumbuhan secara ekonomi seperti di atas berbeda dengan konsep teologi yang saya anut.   "Pertumbuhan ekonomi bukanlah sesuatu yang penting.  Ekonomi yang dimiliki adalah rejeki yang diterima.  Apa yang didapat hari ini dicukupkan dan disyukuri.  Berhenti  punya hasrat yang muluk-muluk: ingin punya rumah, punya mobil, punya motor, liburan, ini dan itu.  Semuanya itu akan menimbulkan rasa sakit," demikianlah konsep teologis yang ada sebelumnya.

Alhasil, setelah bekerja dan menjadi dosen hampir 10 tahun, beli motor baru dengan cara tunai atau ambil kredit rumah  adalah hal yang sangat sulit.  Karenanya, meskipun sudah jadi dosen, motor bekas yang ada pada kami berasal dari pemberian saudara. 

Berhubung isteri saya adalah seorang rohaniwan, kami tinggal di rumah dinas, disebut pastori.  Ukuran pastori kami cukup kecil dan terbatas, sekitar 17 m2.  Tadinya bekas garasi mobil yang disulap menjadi sebuah rumah.  Dengan konsep teologis yang di atas, keadaan ini pun diterima dengan rasa syukur dan penuh sukacita.

Seiring dengan bertambahnya orang yang tinggal di rumah, dua anak dan satu pembantu, rumah terasa sangat kecil dan sempit.  Mulailah terasa betapa terbatasnya jika kita tidak memiliki uang.  Dengan konteks kebutuhan rumah yang lebih layak, mulailah saya berpikir untuk melakukan setiap peluang yang ada.  Ketika ada pemberitahuan dari Richard Otto, teman alumni di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta,  bahwa dia punya bisnis di Tahitian Noni, saya antusias untuk bertanya lebih lanjut.  Berhubung tempat tinggal kami berbeda kota, beliau memberi referensi nama domain website untuk dilihat.  Setelah mengecek domain yang Otto maksudkan, saya kagum pada produk ini.  "Sungguh ajaib produk ini bila benar khasiatnya," pikirku. Saat itu saya tanyakan pada beliau, "Berapa income yang bro dapat dari Tahitian Noni setiap bulannya?" Beliau menyebutkan, "900.000 setiap minggunya." Langsung pikiran saya berkata dalam hati, "hebat sekali bisnis ini.  Reward yang diberikan sangat besar, manfaat produknya juga merupakan berkah yang menakjubkan."

Berhubung anak pertama kami  sering sakit-sakitan, saya berniat juga join member agar anak kami dapat manfaat dari Tahitian Noni.  Karena saya harus mengeluarkan uang untuk membeli produk ini, saya sempat menunda-nunda untuk join dan membelinya.  Selain karena biayanya terhitung besar bagi kami, selama ini kami mendapatkan fasilitas berobat gratis (tanpa mengeluarkan uang).  Karenanya, pola pikir kami terkungkung pada kebanggaan "bila sakit, berobat gratis." 

Saya disadarkan pada sebuah tulisan yang berjudul, "Perbedaan Orang Beruntung dan Kurang Beruntung".  Ternyata perbedaannya sangat sederhana.  Mereka yang beruntung hidupnya lebih baik karena mereka segera mengambil peluang yang ada, tanpa memikirkan atau menganalisa terlalu lamaKerjakan segera dan sungguh-sungguh agar modal segera kembali.  Bila modal sudah kembali dan ada keuntungan dari itu, semuanya adalah berkah.  Karenanya, harus segera action dan bukan menunda.

Saya punya kenyakinan bahwa "Tahitian Noni adalah berkah Ilahi untuk menolong umat manusia.  Karenanya, kabar baik ini harus segera diwartakan kepada lebih banyak orang, khususnya bagi mereka yang punya persoalan kesehatan dan tidak kunjung sehat. "  Agar modal saya segera kembali, saya juga berupaya menjual 3 botol dan mengonsumsi 1 botol untuk anak yang sedang sakit.

Pertama-tama, saya langsung membuat daftar semua kerabat atau saudara yang memiliki persoalan kesehatan.  Saya kunjungi mereka satu-persatu, dengan sepeda motor: Bandung - Indramayu.  Berhubung saya punya motivasi untuk mewartakan kabar baik agar orang yang menerimanya diberkati kesehatannya, saya sangat senang menjelaskan manfaat Tahitian Noni pada setiap orang yang dikunjungi.  Perjalanan 7 - 12 jam (pulang pergi) tetap dirasa senang, meskipun yang dibeli hanya satu botol: sama sekali tanpa beban.



Related Products